Loading...

Penggunaan AI dan Masa Depan Industri Telekomunikasi

Writer: Prof. Dr. Ahmad M. Ramli, S.H., M.H., FCB.Arb., CRGP.

Sebagian besar kehidupan kita di masa depan akan dipengaruhi teknologi Artificial Intelligence (AI). Pernyataan ini dikemukakan oleh International Telecommunication Union (ITU), organisasi PBB yang bergerak di bidang telekomunikasi. Pernyataan ITU ini juga dapat kita tafsirkan bahwa masa depan kehidupan manusia juga akan sangat tergantung pada industri telekomunikasi. Karena industri adalah salah satu pilar utama bisa bekerja dan diaksesnya platform AI oleh penggunanya. Menurut ITU, mesin dapat menjalankan tugas berulang dengan presisi penuh. Dengan kemajuan teknologi AI, mesin memiliki kemampuan untuk belajar, meningkatkan, dan membuat keputusan terkalkulasi. Dengan penggunaan AI, memungkinkan mesin melakukan tugas yang sebelumnya dianggap bergantung pada pengalaman, kreativitas, dan kecerdikan manusia. ITU berpendapat bahwa inovasi AI akan berperan penting dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Hal ini mencakup antara lain sektor kesehatan manusia, perdagangan, komunikasi, migrasi, dan lainnya. ITU memfasilitasi penyediaan platform netral bagi pemerintah, industri dan akademisi. Hal ini penting untuk mengantisipasi perkembangan AI termasuk kebutuhan adanya standardisasi teknis dan panduan kebijakannya. 

Tulisan ini adalah bahan rangkuman dari Penelitian Academic Leadership terkait Regulasi "Artficial Intelligence" pada Center of Cyberlaw and Digital Transformation, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Untuk manfaat lebih luas versi ilmiah populernya, saya bagikan juga kepada pembaca Kompas.com. Industri Telekomunikasi 

Korn Ferry, konsultan manajemen global yang berkantor pusat di Los Angeles, California, dalam rilis berjudul “Telecommunications Connecting talent and strategy for organizational success” menyatakan bahwa saat ini Industri telekomunikasi berada di pusat disrupsi. Laporan itu menyebut Teknologi 5G akan mengubah cara manusia hidup dan bekerja. Seperti kita ketahui bahwa teknologi 5G begitu lekat dengan perkembangan AI. Peningkatan kecepatan dan bandwidth memungkinkan tingkat konektivitas baru bagi bisnis dan konsumen. Teknologi 5G juga akan menjembatani kesenjangan digital, membangun jaringan baru, mendorong industrialisasi, meningkatkan infrastruktur, dan mendorong inovasi. 

Laporan Korn Ferry juga menyebut, bahwa hal itu bukan satu-satunya perubahan yang terjadi. Perusahaan telekomunikasi juga berfokus pada inisiatif inklusi digital untuk memastikan bahwa setiap orang, terlepas dari lokasi atau pendapatan, memiliki akses terhadap broadband. Hal penting yang menjadi catatan laporan itu bagi industri telekomunikasi, bahwa membawa lebih banyak orang ke ranah daring, berkonsekuensi organisasi juga harus memikirkan kembali pengalaman pelanggannya. Untuk menata ulang “customer experience” yang mengintegrasikan pengalaman digital, ritel, dan pusat panggilan, perusahaan telekomunikasi harus mengadopsi cara-cara baru. Seperti dalam pendekatan pekerjaan, mulai dari akuisisi talenta dan manajemen talenta, hingga desain organisasi. 

Sebuah analisis survei menarik, dikemukakan oleh Tim McKinsey yang ditulis oleh Tim konsultan global itu dari beberapa region, Stephen Creasy (Kopenhagen), Ignacio Ferrero (Miami), Tomás Lajous (New York), Victor Trigo (Madrid), dan Benjamim Vieira (Lisbon) dalam laporan: "How generative AI could revitalize profitability for telcos" (21/2/2024). McKinsey mengintroduksi peran AI generatif dalam merevitalisasi profitabilitas perusahaan telekomunikasi, saat memasuki transformasi digital. Laporan itu mengatakan bahwa AI menjanjikan peluang realistis bagi sektor telekomunikasi untuk mengatasi keadaan stagnan. Melalui pendekatan model bisnis baru, AI dapat berperan menghadapi kompetisi, dan penghematan biaya yang dihadapi perusahaan telekomunikasi. Menurut McKinsey, AI generatif (GenAI), dapat menjadi katalis untuk menghidupkan kembali pertumbuhan pascastagnasi selama satu dekade. Teknologi ini sudah berada pada jalur yang tepat untuk menjadi norma baru dalam industri.

Data McKinsey mencatat beberapa perusahaan telekomunikasi di seluruh dunia sudah mulai merasakan dampak persentase dua digit yang signifikan sebagai dampak teknologi AI. Laporan McKinsey menyebut, sebagian besar pemimpin perusahaan telekomunikasi yang disurvei mengatakan, mereka sedang mengembangkan solusi GenAI mulai dari uji coba hingga penerapan skala penuh. Perusahaan telekomunikasi global terkemuka seperti AT&T, SK Telecom, dan Vodafone telah membuat komitmen AI generasi awal yang banyak dipublikasikan dan meluncurkan uji coba. Salah satu perusahaan telekomunikasi Eropa, baru-baru ini meningkatkan konversi kampanye pemasaran sebesar 40 persen, sekaligus mengurangi biaya dengan menggunakan GenAI untuk mempersonalisasi konten. 

Laporan McKinsey juga menyebut bahwa dengan memanfaatkan rekomendasi GenAI, sebuah perusahaan telekomunikasi Amerika Latin, dapat meningkatkan produktivitas agen pusat panggilan sebesar 25 persen, diikuti peningkatan kualitas pengalaman pelanggannya. Dengan pemanfaatan GenAI, potensi perusahaan telekomunikasi juga dapat mencapai dampak EBITDA yang signifikan. Laporan detail itu menyebut beberapa kasus, terkait laba atas margin tambahan yang meningkat 3 hingga 4 poin persentase, dalam dua tahun dan sebanyak 8 hingga 10 poin persentase dalam lima tahun. 

Namun, meskipun hampir seluruh dari 130 perusahaan telekomunikasi yang disurvei memanfaatkan GenAI, analisis McKinsey menunjukkan, masih adanya kehati-hatian dan skeptisisme yang nyata dalam industri ini. Langkah sistemik Menghadapi perkembangan AI dan kompetisi yang sangat signifikan, perusahaan telekomunikasi perlu melakukan beberapa langkah sistemik dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang mencakup:

  1. Pertama, melakukan transformasi untuk melawan disrupsi melalui pendekatan progresif dengan merancang kesiapan sumber daya manusia dan talenta digital. Menggerakan SDM multi talenta dan multi disiplin berwawasan inivatif transformatif untuk mendukung pertumbuhan perusahaan. 
  2. Kedua, perusahaan telekomunikasi perlu mengevaluasi dan merancang struktur organisasi progresif yang dapat mendukung transformasi. Sekaligus secara efektif menekan risiko manajemen, dan mitigasi risiko regulasi yang akan berdampak signifikan. Dalam situasi di mana standar kepatuhan pelindungan data pribadi dan hak-hak konsumen yang secara transparan dapat diakses publik, mewajibkan perusahaan patuh dan taat regulasi. Unsur strategi bisnis inovatif yang dikawal misi bisnis dan "legal compliance" perusahaan adalah keniscayaan. 
  3. Ketiga, penggunaan data dan platform berbasis AI yang lekat dengan pelindungan data pribadi akan semakin tak terhindari. Tidak hanya bagi korporasi, tetapi juga bagi berbagai institusi termasuk lembaga eksekutif, legisltatif dan yudikatif. Penggunaan AI sarat dengan potensi berbagai risiko, dari mulai luaran bias, halusinasi dan tafsir tak tepat atau tak utuh AI. Kemungkinan penyalahgunaan AI oleh pihak tak bertanggung jawab, dan pelanggarannya, maka mewajibkan Pemerintah untuk membuat regulasi tentang AI yang sifatnya mengikat dan tak cukup hanya edaran. Regulasi diperlukan untuk dua hal. Di satu sisi membuka jalan lapang untuk pengembangan dan penerapan AI dalam industri telekomunikasi dan digital. Di sisi lain memberi landasan kepastian dan meminimalisasi risiko serta penanganan pelanggarannya secara proporsional. 
  4. Keempat, perusahaan telekomunikasi sudah harus membuat kebijakan dan regulasi internal secara jelas dan komprehensif dalam penggunaan AI. Hal ini untuk melindungi diri dari pelanggaran dan agar semua tindakannya sejalan dengan regulasi nasional dan best practices global. 
  5. Kelima, perusahaan telekomunikasi perlu menata manajemen risiko. Membuat rincian komprehensif berbagai unsur, membuat prediksi risiko, dan menetapkan langkah mitigasi risikonya adalah hal penting. 

Profesor Daniel Peña Valenzuela dalam artikelnya “Legal liability issues of artificial intelligence and corporate decision making” (31/1/2024) mengatakan bahwa direksi perusahaan mempunyai kewajiban untuk bertindak demi kepentingan terbaik perusahaan dan pemegang sahamnya. Berkenaan dengan hal ini, maka dalam penerapan AI di perusahaan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 

  1. Direksi memiliki peran sentral dalam menetapkan kebijakan dan mengawasi penggunaan AI dalam perusahaan. Direksi juga merupakan pengambilan keputusan strategis terkait dengan implementasi, pengembangan, dan pengawasan sistem AI. 
  2. Manajemen perlu secara rutin melaporkan kepada direksi terkait kemajuan, kinerja, dan risiko penggunaan AI. Hal ini mencakup penggunaan data pribadi, analisis, dan tindak lanjut rekomendasi sistem AI dan lainnya. 
  3. Sistem AI harus dirancang untuk memastikan keadilan, keterbukaan, dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan sesuai dengan kepatutan dan kepentingan korporasi. Kebijakan trade screts dan data pribadi yang didukung sistem keamanan adalah hal tak dapat ditawar. 
  4. SDM adalah faktor penting. Korporasi harus memastikan bahwa personel yang terlibat dalam pengembangan, pelaksanaan, dan pemantauan sistem AI memiliki komptensi memadai. 
  5. Regulasi internal korporasi akan mendorong penggunaan AI untuk bisnis perusahaan secara optimal, dengan tetap melindungi secara hukum direksi dan korporasi. Hal ini juga untuk memastikan penggunaan teknologi secara etis, adil, dan sesuai hukum. Mengintegrasikan prinsip-prinsip ini dalam kerangka regulasi perusahaan, dan kontrak-kontrak dengan pihak ketiga, menjadi landasan efektif progresif untuk pemanfaatan AI dan big data untuk bisnis secara efektif. Dengan demikian, perusahaan dapat melakukan transformasi bisnisnya secara efektif, meminimalkan risiko, dan memastikan terpenuhinya kepatuhan regulasi.

Link Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2024/04/28/15363017/penggunaan-ai-dan-masa-depan-industri-telekomunikasi?page=all

This site uses cookies. We use cookies to ensure you get the best experience on our website